Kamis, 28 Maret 2013

contoh cerpen kriminal


                Amarah di Hati Rekahkan Dendam, Rekahan Dendam Membawa Luka

Senja menjelma menjadi malam.Langit yang tadinya berwarna jingga kemerahan kini berubah menjadi biru kelam,mengikuti langkah sang mentari yang mulai bersembunyi di sisi lain bumi.Bintang gemintang mulai tampak,bertebaran,bagai berlian.
                Pria itu memandang ke luar jendela yang terletak sangat tinggi di atasnya.Nafasnya memburu menahan sakit yang tiada tara.Tubuhnya biru lebam,penuh luka.Lengannya membengkak karena dipukul dengan besi.Dan yang lebih naas lagi,telinga kirinya terpotong.
                Pria itu bernama Helmy Yohanes Manuputi,seorang pria Ambon bertubuh kekar.Di sebelahnya ,dua orang temannya juga terkapar tak berdaya,seperti dirinya.Tubuh mereka juga penuh luka dan memar,walau tak separah dirinya.Tangan dan kaki mereka bertiga terikat.
                Helmy dan dua temannya hanya bisa pasrah.Matanya  menerawang jauh ke luar jendela tinggi yang tak mungkin bisa menyelamatkannya.Ingatannya melayang ke waktu sore hari tadi.
                “Sial ! Kurang ajar itu orang ! “ teriak Helmy,seorang debt collector alias jasa penagih hutang yang bekerja di PT. Sinar Mitra Sepadan.
                “Bikin repot saja.Udah berkali-kali ditagih,masa belum bayar juga.Nggak punya muka apa?”timpal Aryo seorang rekannya yang juga seorang debt collector.
                “Gara-gara dia,jadinya  kita kan yang disalahin ama bos! Bastard !” seru Dede, rekan Helmy yang lain.
                “Udah punya utang numpuk-numpuk terus,berbulan –bulan gak dibayar.Ya jelas lah tambah banyak,orang bunganya nambah nambah terus.Udah gitu bilangnya kalo ditagih bilangnya gak ada,gak ada! “kata Aryo.
                “Huh,tapi itu orang udah gue ancem,”kata Helmy.”Dua hari yang lalu,waktu gue ke sana ma Adib,gue udah bilang kalo dia gak bayar hari ini,semua harta dia bakal disita.Udah gue gertak tuh.Trus ,gue tampar dan tendang perutnya.Biar tau rasa.”
                “Ya udah langsung aja sekarang kita cabut !” ujar Dede berapi-api.
Ketiga pria bertubuh kekar dan bertampang seram layaknya algojo itu pun beranjak menuju rumah seorang nasabah di perusahaan mereka,yang sudah berbulan-bulan menunggak hutangnya.Hati mereka geram.Pasalnya,sang nasabah selalu berkelit bila hutangnya ditagih.Akhirnya,sampailah mereka di rumah nasabah itu.
“Woi, Santo ! Buka pintunya !” bentak Helmy.
Namun lengang.Tak ada jawaban.Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk mendobrak pintu rumah Santo,sang nasabah.
Brakk !! Pintu rumah terbanting keras.Tapi mereka tak mendapati siapapun disana.
“Santo ! Keluar kamu !”teriak Dede.
Helmy berjalan paling depan,sedangkanAryo dan Dede mengikuti dari belakang.Mereka berjalan memasuki rumah itu,memeriksa setiap kamar.Tiba-tiba ,ada seorang menarik tangan Dede dan membekap mulutnya.Dede yang terkejut tak sempat melawan.
Sementara,Helmy dan Aryo tak menyadari bahwa rekan mereka menghilang.Saat mereka berdua memasuki sebuah kamar,mereka telah dihadang oleh tiga orang bertubuh besar yang langsung mendorong tubuh mereka hingga terjerembab,lalu memukuli tubuh mereka dengan pipa besi bertubi-tubi.Kemudian ketiga orang itu  mengikat tangan mereka dan memaksa mereka masuk ke dalam mobil yang sudah diparkir di belakang rumah.Di belakangnya,seorang lagi mengikuti dengan membawa Dede yang juga terikat tangannya.
Di belakang Dede,seorang pria berjalan kea rah mereka dengan wajah marah.Dialah Santo,sang nasabah yang sudah menunggak hutangnya.
“Bawa mereka ke rumah Mus !”serunya, lalu bergegas menaiki motornya.
Kemudian Helmy,Aryo,dan Dede pun dibawa ke sebuah rumah kecil berhalaman luas.Rumah itu berpagar tinggi dan tampak sunyi.Sesampainya di sana,mereka langsung di seret ke sebuah ruangan.Di sana mereka mengalami penyiksaan yang luar biasa.
“Ngapain kamu pakai nendang-nendang perutku segala ,hah?” bentak Santo ,lantas menendang perut Helmy.Helmy mengerang.
“Aku udah bilang aku gak ada uang sebesar itu! Bunga perusahaan kalian itu terlalu tinggi ! Pakai cara kasar lagi !” ucapnya lagi. ”Udah kalian hajar aja para kutu busuk ini.Biar mereka tau rasanya dihajar ! Dan biar mereka gak nagih-nagih utang lagi ke gue!” perintah Santo.
Anak buah Santo pun lantas menggebuki Helmy dan dua temannya hingga babak belur.
Apa yang terjadi pada mereka bertiga sangat mengenaskan.Terlebih lagi Helmy. Lengannya dipukul  dengan pipa besi hingga luka.Kakinya dipukul dengan parang tumpul,dan telingan kirinya dipotong.
“Uaaaargh !” teriak Helmy saat telinga kirinya terpotong.
“Hahahaha….!Tau rasa kamu,” ujar Santo dengan sinar mata penuh kebencian.
Suara derap kaki membuyarkan lamunan Helmy.Pintu dibanting keras dan terbuka.Di ambang pintu berdirilah Santo dan di belakangnya  terdapat para anak buahnya.
“Udah,sekarang buang aja mereka ke jalanan.Nggak ada gunanya kita biarin  mereka terus di sini,”ujar Santo.
Para anak buah Santo lantas menyeret Helmy dan dua temannya yang sudah tak berdaya ke mobil di luar rumah.Mereka pun lantas dilempar ke dalam mobil.Lalu mobil itu pun melaju dengan cepatnya.
Sesampainya di jalanan di kawasan Margonda,sepeda motor yang dinaiki Santo pun berhenti.Mobil di belakangnya pun lantas ikut berhenti.
“Hei,mending di sini aja.Di sini sepi !”teriak Santo kepada anak buahnya.
                “Oke. Lempar Pang !” teriak salah satu anak buahnya.
                Helmy, Aryo dan Dede pun dilempar di tengah jalan. Lalu, mobil mereka pergi.
                Tiba-tiba, dari arah depan sebuah mobil van putih melaju kea rah Helmy, Aryo dan Dede. Ban mobil berdecit di depan mereka. Nyaris saja mereka terlindas.
Lalu, tiga orang pria dengan pakaian kemeja dan berdasi keluar dari dalam mobil. Mereka mendekati tiga orang yang terbaring di jalanan dengan tangan terikat itu.
“Helmy, Dede, Aryo !” teriak salah seorang.
Mereka lalu menggotong Helmy, Dede dan Aryo ke dalam mobil. Lalu mobil itupun pergi meninggalkan kepulan asap, menuju rumah sakit.
Helmy mengerjap-ngerjapkan mata. Terlihat sinar matahari yang terang menembus jendela. Segalanya serba putih. Dan, di meja sebelahnya obat-obatan berderet teratur.
“Kamu sudah sadar, Sayang?”
Tiba-tiba terlihat wajah istrinya yang sembab oleh air mata. Di samping istrinya, anak perempuannya juga menangis.
“Bianca dari semalam tidak tidur. Dia terus menangis dan dia ingin menjagamu,” kata istrinya.
“Papa….”, gumam Bianca.
Helmy hanya bisa tersenyum. Tubuhnya kaku dan sulit digerakkan.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Helmy, istri dan anaknya tersentak kaget.Seorang wanita tua berusia 57 tahun terburu-buru masuk. Dia adalah Ena Manuputi, ibunda Helmy.
“Anakku…! Oh,sayang !” ratapnya dengan logat Ambon yang kental.  “Apa yang terjadi, Nak?”
“Beta…” Helmy menjawab dengan lemah. Lalu, dia menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Nyonya Ena hanya bisa mengangguk-ngangguk sedih mendengar kisah anaknya.
“Sudah 6 tahun beta tak jumpa kau, Sayang. Beta rindu kau. Keadaan kau bikin hati ibumu ini sakit,” ujar Nyonya Ena.
Kemudian, Nyonya Ena membersihkan tubuh Helmy dan mengolesi obat di tubuhnya.
“Ini tak bisa dibiarkan ! Beta akan buat perhitungan dengan mereka !” ujar Nyonya Ena marah.
Nyonya Ena, yang tak terima melihat kondisi anaknya,berusaha mencari keterangan tentang nasabah yang menganiaya anaknya. Ia mencari melalui perusahaan anaknya. Pihak Santo, sang nasabah, berusaha berdamai dengannya. Dia berjanji akan mengganti biaya rumah sakit anaknya. Sebenarnya, Nyonya Ena  tidak terima dengan pertanggungjawaban hanya ganti rugi biaya rumah sakit. Ia ingin sekali menjebloskannya ke penjara. Namun, wanita tua itu takut berurusan dengan orang-orang kejam dan beringas itu.
Malam  itu, tepat malam yang ketujuh Helmy dirawat di rumah sakit. Sinar bulan keperakan yang menerangi langit, tak mampu menghapus suasana suram di malam itu. Hening.
Istri dan anak Helmy serta ibundanya berkumpul di kamar Helmy malam itu. Pada malam itu, Helmy Yohanes Manuputi menghembuskan nafas terakhirnya. Segalanya seperti mimpi. Seperti mimpi, bagi keluarga Helmy. Tak lama setelah itu, isak tangis pun memecah keheningan malam.
Nyonya Ena membayangkan saat-saat terakhir dalam hidup anaknya. Anaknya sudah 10 tahun menetap di Jakarta. Dan selama enam tahun, ia tak melihat wajah anaknya. Kini, saat ia tengah melihatnya, anaknya sudah menutup mata.
Akan kuperjuangkan keadilan untukmu Sayang,pikirnya. Hatiku kuat untuk melanjutkan ini ke proses hukum.

0 komentar:

Poskan Komentar